oleh

Taliban 2.0

Oleh SUBHAN SETOWARA *)

PENGAMBILALIHAN Afghanistan oleh Taliban menjadi topik yang paling banyak diperbincangkan sepekan terakhir. Betapa tidak, peristiwa itu begitu mengejutkan. Setelah 20 tahun terpinggirkan pasca disingkirkan Amerika Serikat (AS) pada 2001, Taliban kembali berhasil merebut Kabul, ibu kota Afghanistan.

Dua dekade lalu, tepatnya pada periode 1996–2001, Taliban pernah menguasai Kabul. Namun, kepemimpinan mereka yang zalim dan ekstrem membuat Taliban tak disukai, baik di negaranya maupun kalangan internasional, terutama negara-negara Barat. Di babak kedua penguasaannya ini, Taliban berupaya menampilkan wajah baru yang lebih toleran, diplomatis, dan moderat. Inilah Taliban 2.0.

Kartunis politik harian The Washington Post, Michael de Adder, via laman opini koran tersebut (20/8) membuat karikatur yang menggambarkan perbedaan Taliban versi lama (1.0) dan versi baru (2.0). Taliban 1.0 digambarkan dengan tiga jihadis Taliban yang menodong perempuan berburqa, sementara Taliban 2.0 diilustrasikan dengan gambar serupa, namun salah satu jihadis sembari memegang boneka kinder yang eye-catching dengan mentari tersenyum di badannya. Di bawahnya tertulis ”the New Kinder Taliban”.

Karikatur itu merupakan sindiran Adder terhadap Taliban generasi baru. Baginya, sama saja Taliban yang dulu dan sekarang. Bedanya, Taliban versi baru ini lebih cerdik dalam pencitraan. Pandangan Adder ini tak pelak mewakili pikiran banyak pakar perdamaian dunia. Mereka yakin imaji Taliban yang moderat hanyalah lip service agar kepemimpinan Taliban kali ini bisa diterima warga Afghanistan maupun kalangan internasional.

Baca Juga:  Simak, Ini Persenjataan Militer AS yang Kini Dikuasai Taliban

Melalui juru bicaranya, Zabihullah Mujahid, dalam konferensi pers (17/8), Taliban menyatakan berjanji untuk melindungi hak-hak perempuan dan kebebasan pers, sesuatu yang di masa lalu menjadi handicap mereka. Taliban juga berjanji tidak melakukan balas dendam pada musuh politik mereka. Pernyataan yang terasa janggal jika merujuk portofolio perilaku Taliban yang ekstrem dan brutal.

Taliban 2.0 ini juga melakukan rebranding via Twitter dan konten media sosial lainnya dengan menunjukkan ciri kekinian. Setelah memasuki Kabul, misalnya, para militan Taliban lantas mem-posting video dan foto yang menampilkan para pejuang mereka sebagai sosok orang biasa yang mudah didekati: berolahraga, makan es krim, dan berpenampilan menarik (The Politico, 20/8). Kesan Taliban yang khas konservatif dan eksklusif tampak hendak dihilangkan menjadi lebih modern dan terbuka.

Taliban yang di masa lalu menjadi aktor pembunuhan massal terhadap etnis Syiah Hazara juga berupaya menghapus citra buruk itu. Dalam sejumlah video daring, ditampilkan bahwa perwakilan Taliban menghubungi kelompok minoritas, termasuk Syiah Hazara dan Sikh, menjamin bahwa Taliban akan menjaga keselamatan mereka. Salah satu akun Twitter resmi Taliban juga mem-posting video gadis-gadis yang bersekolah untuk menunjukkan kesan kepedulian Taliban pada hak-hak publik perempuan. Padahal, pada periode kepemimpinan mereka dua dekade lalu, Taliban melarang keras peran perempuan di ruang publik.

Baca Juga:  Trending, Fotografer Cantik Afganistan Ceritakan Kisah Pilu Tinggalkan Pertiwi

Taliban 2.0 juga secara internal mengalami modernisasi menjadi lebih multikultural. Taliban yang semula monolitik karena hanya eksklusif diisi etnis Pashtun, etnis muslim Sunni yang mendiami Afghanistan dan Pakistan, kini membuka diri tanpa memandang suku dan ras. Taliban bahkan melakukan rekrutmen terbuka secara nasional agar siapa saja bisa menjadi bagian dari mereka.

Mereka kini juga lebih lihai dalam berdiplomasi. Belajar dari masa lalu, Taliban sadar bahwa eksistensi kekuasaan mereka sangat ditentukan penerimaan internasional. Kini retorika politik mereka menjadi lebih lunak dan fleksibel. Ketika berkomunikasi dengan media Barat, misalnya, Taliban berkali-kali menggunakan jargon diplomatik melalui sejumlah frasa seperti ”Afghanistan damai”, ”aspirasi rakyat”, ”negosiasi”, ”hak-hak perempuan”, dan ”amnesti umum”. Kosakata itu juga ditampilkan ketika bersuara di media sosial.

Kendati begitu, Taliban telanjur tersandera masa silam. Mereka dibayangi ketidakpercayaan global serta situasi warga Afghanistan yang traumatis dan dipenuhi rasa takut. Tak heran, selain pelanggaran hak-hak perempuan dan minoritas, Taliban telah begitu berani menantang dunia internasional dengan menghancurkan dua patung raksasa Buddha di Lembah Bamiyan yang merupakan Warisan Dunia UNESCO pada 2001. Selain itu, yang paling fenomenal, tentu saja posisi Taliban sebagai mitra sekaligus pelindung organisasi teroris Al Qaeda yang menjadi aktor di balik serangan 9/11.

Baca Juga:  Peran Strategis Generasi Digital

Dengan situasi seperti ini, Taliban 2.0 berada pada titik krusial yang masih sukar diprediksi masa depannya. Setidaknya, ada tiga kemungkinan yang menggambarkan tindakan mereka saat ini. Kemungkinan pertama, sikap Taliban yang moderat ini hanyalah bersifat temporal. Setelah situasi sudah bisa mereka kendalikan, Taliban akan kembali pada habitatnya sebagai kelompok ideologis-konservatif dan ekstremis yang kejam.

Kemungkinan kedua, Taliban menjadi faksi politik yang senantiasa fleksibel dalam bertindak sesuai dengan kepentingan pragmatis. Jadi, segala sikap dan gerakan mereka tak lagi ditentukan faktor ideologis, namun lebih-lebih dipengaruhi hasrat melanggengkan kekuasaan.

Artinya, adakalanya mereka bersifat moderat, namun di waktu lain bisa bertindak ekstrem, bergantung situasi dan kepentingan. Kemungkinan ketiga, Taliban bakal konsisten berubah menjadi kelompok moderat lantaran mereka menyadari bahwa karakter itulah yang paling sesuai untuk membangun Afghanistan baru yang lebih adil, damai, dan beradab.

Tentu saja kita berharap Taliban versi baru ini konsisten bertransformasi menjadi kelompok moderat yang mengayomi warga Afghanistan, kendati dalam sanubari kita menyimpan banyak keraguan dan tanda tanya. Bagaimanapun, apa yang terjadi dalam beberapa bulan ke depan bakal menjadi ujian yang krusial bagi Taliban 2.0. (*)

*) SUBHAN SETOWARA, Dosen Hubungan Internasional UMM, direktur eksekutif RBC Institute A. Malik Fadjar

Komentar