Referensinews.com – Kamis, 31 Juli 2025, sekitar pukul 11.00 WIB, warga Dusun Sukarame, Desa Haduyang, tidak menyangka akan menemukan tubuh manusia mengambang di sungai. Airnya tenang, tapi kabar yang dibawanya membuat gempar.
Jenazah pria itu kemudian diidentifikasi sebagai Pandra Apriliandi, 21 tahun, pegawai koperasi asal Lampung Utara yang sebelumnya dilaporkan hilang. Ia terakhir terlihat tiga hari lalu. Ditemukan dalam keadaan sudah tidak bernyawa.
“Identitas jenazah telah dikenali. Keluarga korban juga sudah melihat langsung dan menyatakan itu adalah anggota keluarga mereka,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Lampung, Kombes Pol Indra Hermawan, dalam konferensi pers di RS Bhayangkara, malam harinya.
Pandra tidak ditemukan di tempat ia biasa bekerja, atau di jalan menuju rumah. Ia ditemukan di sungai Kampung Kroya—sekitar 60 kilometer dari tempat tinggalnya. Tidak wajar. Tidak mudah dijelaskan.
Pertanyaan pun mulai muncul. Bagaimana Pandra bisa sampai di sana? Apakah ia pergi sendiri? Apakah ada yang membawanya?
Kepolisian belum menjelaskan lebih lanjut soal kronologi pergerakan korban. Tapi yang pasti, sejak tiga hari sebelumnya, keluarganya sudah mencari. Dan laporan orang hilang itu kini berubah status—menjadi laporan pembunuhan.
Polda Lampung menyebut akan terus mendalami motif dan mencari siapa yang terakhir kali bersama korban. Penyelidikan masih berlangsung. Namun fakta-fakta awal mengarah pada dugaan kuat bahwa ini bukan kecelakaan.
“Masih dalam proses pendalaman,” kata Indra singkat.
Pandra hanyalah pegawai koperasi. Usianya baru 21 tahun. Usia yang mestinya sibuk menyusun masa depan, bukan menunggu identifikasi jenazah. Tapi di usia muda itu pula, hidupnya harus berakhir di arus sungai yang asing baginya.
“Dari pemeriksaan luar, ditemukan luka sayat di leher yang menyebabkan putusnya pembuluh darah besar,” timpal dr. I Putu Suwartama Wiguna, dokter spesialis forensik RS Bhayangkara Polda Lampung kepada wartawan.
Bukan luka biasa. Menurut Putu, luka tersebut mengenai batang tenggorokan dan kerongkongan. “Ini yang kami duga menjadi penyebab utama kematian korban karena pendarahan hebat,” ujarnya.
Tubuhnya ditemukan warga mengambang di pinggir sungai, mengenakan pakaian kerja. Tak ada barang berharga. Tak ada dokumen penting. Hanya pakaian lusuh yang mengisyaratkan, ia adalah pekerja keras.
Tim forensik memperkirakan, korban sudah meninggal dua hingga tiga hari sebelum ditemukan. “Kami perkirakan dari kondisi pembusukan tubuh dan ukuran larva yang ditemukan, sekitar 0,8 sentimeter,” jelas Putu.
Tidak ada tanda-tanda perlawanan yang berarti. Tidak ditemukan luka lain di tubuh korban selain di bagian leher. Pertanyaannya pun mengerucut: apakah korban diserang secara tiba-tiba? Atau malah tidak sadar bahwa ajal sedang menghampiri?
Putu menjelaskan, pihaknya akan melakukan pemeriksaan lanjutan melalui analisis patologi anatomi. “Untuk mengetahui, luka itu terjadi saat korban masih hidup atau setelah meninggal,” katanya. Perbedaan tipis, tapi sangat menentukan arah penyelidikan.
Di luar kantor koperasi tempatnya bekerja, mungkin masih ada papan pengumuman rapat anggota. Di ruang kas kecil, mungkin masih ada dokumen yang ditandatangani olehnya. Di rumah, ada yang menunggu kabar, entah istri, anak, atau orang tua.
Tapi di Sungai Natar hari itu, hanya ada diam.
Dan kita, seperti biasa, mulai menulis pertanyaan demi pertanyaan: siapa yang terakhir bersamanya? Apa yang terjadi dua hari sebelum tubuh itu ditemukan?
Jawabannya mungkin akan datang. Atau tidak sama sekali. Tapi sungai sudah menyampaikan satu hal: ada yang tidak selesai. *
















Komentar