Referensinews.com – Jihan Nurlela bukan pejabat baru. Ia pernah duduk di Senayan sebagai anggota DPD RI dapil Lampung.
Jalurnya independen. Ia tahu caranya bicara elegan, tahu cara merangkai narasi yang menarik.
Terbaru, sebagai Wakil Gubernur Lampung, ia bicara soal isu lama, namun dengan semangat baru.
“Anak-anak desa, dari keluarga prasejahtera, mulai bermimpi jadi dokter,” katanya, Minggu, 24 Agustus 2025.
“Ini harus kita dukung dengan kebijakan afirmatif agar mereka punya akses pendidikan dan kembali membangun daerahnya,” sambung Jihan.
Kalimatnya manis. Harapannya mulia. Tapi seperti banyak pidato pejabat lain, pertanyaan pentingnya tetap: bagaimana caranya?
Karena sampai hari ini, jalan menuju Fakultas Kedokteran tetap mahal dan sempit.
Masuknya susah, uangnya besar, dan beasiswanya sedikit. Apalagi untuk anak petani di Tulang Bawang, atau nelayan di Pesisir Barat.
Jihan menyebut soal rasio: satu dokter untuk seribu penduduk.
Katanya, Indonesia masih jauh dari target itu. Dan benar, itu kenyataan. Tapi kenyataan lainnya: program untuk mengejar target itu belum banyak berubah.
Ia lantas bilang solusi idealnya adalah membangun lebih banyak Fakultas Kedokteran.
“Saya berharap pembangunan fakultas kedokteran bisa difokuskan ke daerah-daerah yang memang sangat membutuhkan, seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua,” katanya.
Lagi-lagi, itu benar. Tapi membangun FK bukan urusan cepat. Bukan hanya soal gedung dan plang nama.
Butuh rumah sakit pendidikan, dosen yang qualified, laboratorium, kurikulum yang ketat, dan izin dari pemerintah pusat yang tidak mudah keluar.
Dan bahkan setelah FK itu berdiri pun, belum tentu anak daerah bisa langsung masuk. Apalagi lulus dan pulang ke kampungnya.
Itulah kenapa ‘kebijakan afirmatif’ yang Jihan maksud harus dibongkar: Apakah ini soal kuota masuk? Soal beasiswa penuh? Soal ikatan dinas?
Atau sekadar ‘imbauan moral’ bagi kampus?
Jangan sampai afirmasi hanya jadi jargon. Karena negara sudah kenyang dengan niat baik yang tidak pernah dibarengi roadmap.
Sebagai mantan senator dan kini Wagub, Jihan semestinya paham: Yang dibutuhkan anak muda dari pelosok bukan lagi harapan, tapi akses nyata.
Bukan hanya mimpi jadi dokter, tapi jalan agar bisa sampai ke sana —dan pulang.
Karena hari ini, masih banyak yang mau jadi dokter. Tapi tidak semua punya uang untuk masuk fakultasnya.
Dan bahkan yang sudah lulus, belum tentu mau kembali ke desa asalnya—karena fasilitasnya tidak mendukung.
Maka kita berharap, ucapan Jihan bukan sekadar pengulangan pidato pejabat. Melainkan bahwa Lampung benar-benar menyiapkan afirmasi itu. Dari hulu sampai hilir.
Supaya mimpi anak desa tidak berhenti di brosur pendaftaran. Supaya dokter dari desa, benar-benar bisa kembali ke desa.
















Komentar