“Pabrik kami nggak mungkin bisa berproduksi dengan kapasitas tinggi dan kualitas yang baik kalau bahan bakunya tidak baik. Artinya, ini memang hasil kerja bersama. Perawatan kebun bagus akan menumbuhkan batang yang bagus sehingga menghasilkan getah yang bagus sebagai bahan baku. Terus diolah menghasilkan karet kualitas bagus sehingga dapat harga bagus juga di pasar,” kata Sekretaris Perusahaan PTPN VII tahun 2018.
Tim penilai kinerja dari Holding Perkebunan Nusantara yang kemudian memberi nilai terbaik kepada Pabrik Karet Tulungbuyut ini tidak semata mengacu kepada produktivitas. Dari tampak luarnya, pabrik yang juga membeli bahan baku karet petani sekitar itu juga dipoles sedemikian rupa.
Komplek perkantoran, pabrik, perumahan, dan taman ditata dengan menjaga kebersihan, kerapihan, pemasangan merek dengan huruf akrilik, dan ruang terbuka yang terlihat asri.
Memulai dari penampilan luar, Agus Faroni berkeyakinan akan membangun rasa nyaman kepada seluruh manusia yang beraktivitas dan berinteraksi dengan PTPN VII Unit Tulungbuyut. Jika sudah merasa nyaman, tambah dia, akan terbangun optimistis kepada setiap orang, percaya diri, bangga, ceria, dan dinamis untuk mengerjakan setiap tugas.
“Untuk membangun suasana nyaman bekerja, kita harus ciptakan lingkungan yang nyaman juga. Nanti kan akan timbul rasa cinta kepada pekerjaan dan sesama. Nah, itu dibutuhkan kepedulian, respek, dan kerjasaman yang solid. Ini kami bangun bersama selama setahun terakhir. Dan alhamdulillah bisa tercipta suasan kerja yang nyaman,” kata Agus yang sebelumnya menjabat Kabag SPI di Kantor Direksi PTPN VII.
Beberapa poin penting dilakukan Agus bersama tim yang solid. Dari hilir, ia mensyaratkan bahan baku berupa lateks dan karet remah (beku) dengan kualitas terbaik, tanpa kontaminasi, dan treatmen yang tepat. Aspek ini membutuhkan pembinaan dan pengawasan yang ketat oleh para mandor dan asisten tanaman yang bergelut di kebun (on farm).
Bersamaan dengan penjagaan kualitas, penambahan kuantitas atau jumlah produksi getah juga terus ditingkatkan. Hal ini dilakukan untuk memastikan kapasitas terpasang pada pabrik yang mengolahnya tercukupi dan terhindar dari idle capacity, juga agar produktivitas secara keseluruhan bisa ditingkatkan.
“Pabrik kita mengolah lateks untuk menghasilkan karet kualitas tinggi atau high grade berupa RSS (ribbed smoked sheet), SIR-20 dan SIR-40 (Standard Indonesian Rubber) low grade yang berbahan baku karet beku. Jadi, selain mengejar jumlah produksi, kami harus pastikan lateks dan crumb rubber, juga bokar tanpa kontaminasi. Ini sangat kami jaga jangan sampai lolos,” kata dia.
Aspek kedua, menurut Agus adalah memastikan performa pabrik sesuai dengan kapasitas terpasang, bahkan lebih. Dia mengakui, teknologi pengolahan karet menjadi bahan baku industri tidak serumit teknologi tinggi lain dan lebih banyak yang manual mekanis konvensional. Hal itu juga yang menguatkan bahwa serangkaian elemen pabrik yang dibangun zaman Belanda masih berfungsi dengan baik.
Ia mencontohkan, tungku pengasapan dengan bahan bakar kayu yang dibangun 1930 masih difungsikan dengan baik. Dengan teknik sederhana, oven ini menghasilkan lembar-lembar karet kualitas ekspor yang sangat diminati pasar dunia.
















Komentar